Hari ini di layar televisi, kita beruntung sekali bisa menyaksikan rangkaian prosesi penikahan putri Sri Sultan Hamengkubuwono X, yang disiarkan langsung oleh GlobalTV, JogjaTV dan TVRI Jogja.
Sebagai orang teknik, ada yang mengganjal di mata, pikiran dan perasaan saya, yaitu tentang perbedaan kualitas gambar yang saya terima dan nikmati di layar televisi saya. Jelasnya adalah hasil tayangan GlobalTV lebih bagus dari pada JogjaTV dan TVRI Jogja. Memang tidak adil jika head to head antara ketiganya. TVRI di rumah saya jelek karena letak pemancar TVRI yang di Jalan Magelang, arahnya kurang lebih ke timur laut dari rumah saya, padahal saya hanya memakai satu antena yang mengarah ke komplek pemancar tv di jogja, yaitu di Desa Ngoro-Oro, Patuk, Gunung Kidul, yang arah antenanya adalah arah tenggara dari rumah saya.
Jadi kalau mau adil, hanya GlobalTV dan JogjaTV saja yang bisa dibandingkan, karena keduanya sama-sama berada dalam satu komplek atau lokasi di Desa Ngoro-Oro, Patuk, Gunung Kidul. Dan dari pengamatan sekilas saja, akan kelihatan bahwa pemenangnya adalah GlobalTV, yaitu gambarnya lebih jelas dan lebih terang, dan GlobalTV tidak ada bonus semutnya alias KEPYUR kalau dalam istilah orang jogja. Hal tersebut bisa dimaklumi karena memang, pertama tower GlobalTV lebih tinggi, kedua power pemancarnya juga lebih besar, yang ketiga kemungkinan merek dan kualitas mesin pemancarnya juga lebih bagus milik GlobalTV.
Jadi sekarang kita masuk ke inti dari permasalahan yang dihadapi oleh hampir semua televisi lokal, yaitu mereka hanya setengah-setengah saja dalam membuat stasiun pemancar, yaitu:
1. Ketinggian tower yang umumnya lebih rendah dari televisi Jakarta yang sudah eksis.
2. Power Perangkat pemancar yang juga lebih rendah dari televisi Jakarta.
3. Mesin pemancar yang kurang handal dan kurang berkualitas.
Jadi minimal ketiga hal diatas seharusnya menjadi titik perhatian utama dari pengelola tv lokal jika igin bersaing dengan televisi Jakarta yang sudah eksis. Sebagai ilustrasi adalah tayangan pernikahan putri Sri Sultan hari ini (9 Mei 2008), ini adalah tayangan yang dinantikan oleh masyarakat Jogja, dan tentunya orang akan lebih senang melihat gambar yang jelas dan berkualitas di layar televisi, dan tentu saja pada akhirnya akan pilih lihat GlobalTV.
Bagaimana mungkin televisi lokal akan bisa bersaing dengan televisi Jakarta jika kualitas pemancarnya hanya pas-pasan saja. Televisi itu titik utama jualannya adalah video atau gambar, akan lucu bila ternyata dari sisi tersebut sudah KO duluan. Ibaratnya bisa saja sebenarnya kontennya bagus, tetapi kalau kualitas audio videonya jelek akan jadi tidak menarik. Kebalikannya mungkin televisi Jakarta kontennya hanya sekedarnya saja, tapi karena kualitas audio dan video bagus, maka tetap dilihat pemirsa.
Begitulah kondisi dan nasib sebagian televisi lokal yang sudah berdiri sekarang ini. Padahal di jogja sekarang ini sedang ada 5 televisi lokal yang mencoba keberuntungannya untuk mendapatkan satu kanal tersisa yaitu kanal 44, padahal kanal ini sebenarnya sudah di plot untuk kanal digital. Anggap saja nanti salah satunya menang, apakah si pemenang ini juga hanya akan mengikuti jejak televisi lokal yang sudah ada, yaitu hanya membuat pemancar ala kadarnya saja. Apakah begitu beratnya membuat pemancar televisi dengan standar kualitas yang baik di Jogja saat ini?
Jika melihat televisi Jakarta yang sudah eksis, rata-rata ketinggian tower pemancarnya adalah 100meter, perangkat pemancarnya memakai merek yang terjamin, bisa memilih salah satu, yaitu NEC, RS, dan Harris, dan power pemancarnya rata-rata adalah 20KW. Sejujurnya saya sendiri tidak tahu, berapa rupiah uang yang dihabiskan untuk membuat sebuah pemancar televisi yang seperti standar diatas, estimasi saya kemungkinan antara 8 sampai 10 milyar.
Sekarang ini adalah jaman digital. Digital adalah solusi paling masuk akal agar frekuensi yang merupakan sumber daya alam terbatas ini bisa lebih dimanfaatkan secara maksimal. Anggap saja secara sederhana, bahwa satu kanal akan bisa dimanfaatkan untuk minimal lima pemancar jika mau menggunakan teknologi digital. Maka masalah lima stasiun tv lokal yang baru di jogja sudah terpecahkan, semua senang, semua menang, semua bisa siaran, yaitu dengan memakai teknologi digital teresterial.
Suka tidak suka, senang tidak senang, saya yakin pada akhirnya teknologi digital akan diaplikasikan dan diharuskan dalam pemancar televisi, termasuk kepada pemancar televisi yang sekarang sudah beroperasi. Dengan 14 kanal yang disediakan di Jogja, maka akan bisa menampung 70 televisi digital teresterial.
Sungguh akan menjadi sejarah yang menyenangkan jika Jogja berani mulai duluan dengan menerapkan system penyiaran digital teresterial. Tentang pengadaan set top box yang fungsinya untuk merubah sinyal digital menjadi analog lagi sehingga audio dan video bisa ditampilkan di televisi analog, jangan jadikan hal ini sebagai kendala, posisikan sebagai peluang bisnis sampingan, yaitu sekaligus menjadi pembuat/penjual set top box tersebut. Jadi televise lokal yang mau berdiri, akur dan kompak sajalah untuk siaran digital teresterial. Kompak membagun satu tower pemancar untuk dipakai bersama, akan banyak sekali biaya yang bisa dihemat. Sebagai kompensasi dari penghematan tersebut, akan tepat bila disubsidikan untuk pembelian perangkat SET TOP BOX bagi pemirsa, sehingga harganya terjangkau dan terbeli.
Saya pribadi bekerja di tvOne, salah satu televisi Jakarta, dengan atau tanpa saya menulis hal inipun saya yakin bahwa suatu saat era televisi digital teresterial bakal terjadi juga, jadi saya hanya ingin memberikan dorongan kecil, dengan niatan semoga makin terbukanya wawasan semua pihak bahwa pilihan untuk segera beralih ke teknologi penyiaran digital teresterial adalah sangat-sangat tepat, terutama untuk televisi lokal yang baru akan berdiri.
Apakah posisi televisi Jakarta akan terganggu dengan adanya banyak televisi lokal? jawabannya bisa ya bisa tidak, kalau saya pribadi yakin dengan tvOne tempat saya bekerja, karena tvOne punya acara dan segmen market yang jelas. Soal berganti teknologi transmisinya ke digital teresterial itu hanyalah soal teknis saja.
DIarsipkan di bawah: Televisi

iya mas, tv lokal lokal seharusnya juga harus jauh berpikir ke depan 5th kedepan dan kedepan, tidak hanya anget-anget Maaf) tai ayam (kata orang gitu) Tv lokal jg hanya cari gengsi.
bikin tv lokal lebih gampang drpd mempertahankannya, bagaimana dapet pemasukan yg tidak hanya saat itu saj..
kalau memang serius (bukan serius band) yg harus di nomer satukan dan menjadi nomer 1 semua; spt. teknik, pemancar tv/master control/studio dll
saya sering ke jogja, juga sering liat tv di jogja, pengen liat tv lokal, begitu nonton kok akeh semute yo…hal itu tdk saya saja yg saya rasakan semua orang juga akan gitu.
udah males dulu toh nontonnya…
saya rasa qualitas pemanca yg jd nomer 1 dulu, baru program yg oke punya…
masih banyak lg yg diomongin tp kok ga muat ya….
contohnya ya spt kemaren pengantenanne sang putri keraton.wong jogja pasti bangga punya tv lokal atau tvri lokal tp begitu liat yg lokal podo kepyur yo wegah..
kalau pemancar tv sendiri yg 1kw buatan italy harga 290 jt kalau yg spt nec/r&s hampir 1m.muahal ya…
@ ismail
begitulah mas, kebanyakan tv lokal masih banyak ngasih bonus “SEMUT”. He he he.
Coba kalau pada mau pake digital.
tolong tanya alamat stasiun TV lokal di surabaya (MH TV, MN TV, Sun TV, Arek TV, dll), karena saya ingin magang (praktek kerja) di salah satu stasiun TV selain JTV dan SBO karena mereka tidak menerima. terima kasih