Ini adalah pengalaman seorang teman yang seorang guru dan pendidik. Ini adalah pengalaman nyata, tetapi mohon maaf jika nama, waktu kejadian, dan tempatnya saya rahasiakan.
Ada seorang murid yang di sekolahan susah dididik, nakal terhadap temannya, berani dengan guru saat guru menegur karena tingkah lakunya yang sudah kelewatan. Dan mungkin karena kesabaran seorang guru juga ada batasnya, sehingga si guru sampai menangani secara fisik kepada si murid ini. Sebenarnya masih dalam batas toleransi kalau menurut penilaian saya, artinya bukan lantas guru meninju, menampar dengan keras sampai pingsan.
Eh rupanya si anak menangis dan pulang ke rumah, dan celakanya ibu si anak melihat dan mendengar pengaduan anak lantas melabrak ke kesekolahan. Tanpa ba bi bu, tanpa bertanya secara baik-baik duduk permasalahannya, langsung menyemprot guru yang membuat anaknya menangis, disertai dengan ancaman-ancaman tertentu yang membuat si guru jadi tertekan.
Jika diadakan polling di sekolahan untuk guru dan murid, tentu banyak yang setuju jika murid yang diatas tadi keluar secara suka rela atau dikeluarkan saja.
Memang sudah saatnya seorang guru lebih melek hukum agar jika menghadapi hal-hal seperti itu bisa berbuat yang tepat. Saya jadi teringat cerita bapak saya jaman sekolah dulu. Jaman dulu seorang guru itu tangan kanan bawa kapur, tangan kiri pegang penjalin untuk memukul muridnya yang malas, yang nakal, dan berbuat kesalahan yang lain. Dan di jaman dulu hal tersebut lumrah saja.
Saya pribadi pernah mencoba menjadi seorang guru, tetapi karena saya menyadari sifat-sifat saya yang khususnya tidak punya kesabaran seluas samudera, maka saya pilih mundur dari cita-cita untuk menjadi guru. Kalau pendapat ngawur saya, ya sudah kalau ada murid yang nakalnya kelewatan, ya biarin saja, habis bagaimana, dididik dengan suara/mulut/petuah tidak bisa, dikerasi dengan fisik, eh orang tuanya gak terima, lha mbok yo sudah wong anaknya orang lain juga, mending ngurusi anak/murid lain yang bisa dididik dan diarahkan. Gitu saja kok repot.
NB: saya dulu lulus smp dan sma enggak konvoi dan enggak corat-coret baju, mungkin karena tahun 90an itu untuk lulus mudah, sehingga rasanya biasa saja tuh lulus smp dan sma, yang sudah kan setelah lulus lalu cari PTN ternama untuk bisa kuliah pada fakultas yang menjanjikan masa depan.
DIarsipkan di bawah: Dunia Kerja
