Kesan berwisata di Gua Gong & Gua Tabuhan di Pacitan


Tanggal 3 Januari 2009 saya ikut rombongan SD tempat istri saya mengajar untuk berwisata ke wilayah Pacitan, dan obyek yang dituju adalah Pantai TelengRia, Gua Gong, dan Gua Tabuhan.

Siap berangkat

Siap berangkat

Dari Jogja jam 07:15, dan tepat jam 10:49 sampailah di pintu masuk Pantai TelengRia Pacitan, pantai ini dikelilingi oleh tingginya pegunungan yang saya perkirakan kisaran 100meteran yang membetuk seperti tapal kuda, sehingga ombak pantainya tidaklah sedahsyat seperti pantai Parangtritis di Bantul, Jogja.

Pemandangan Bukit Karts sepanjang perjalanan ke Pacitan

Pemandangan Bukit Karts sepanjang perjalanan ke Pacitan

dsc01870

Sampai tapal batas Pacitan

Sampai tapal batas Pacitan

Selamat datang di Kabupaten Pacitan

Selamat datang di Kabupaten Pacitan

Sampai juga di Pantai TelengRia

Sampai juga di Pantai TelengRia

Sebenarnya acara intinya adalah perpisahan salah satu guru yang pensiun, sehingga praktis di Pantai ini, rombongan kami mengadakan seremonial pelepasan guru yang mau pensiun, dan tentu saja dilanjutkan dengan makan siang dengan nasi box yang memang telah dibawa dari Jogja.

Makan siang di Pantai TelengRia

Makan siang di Pantai TelengRia

Selepas sholat lohor, barulah saya dan rombongan menuju pantai. Karena tidak membawa baju cadangan, maka saya tidak berani mandi di pantai, lagi pula airnya agak keruh karena pengaruh pasir hitamnya.

Nampang di Pantai TelengRia

Nampang di Pantai TelengRia

Sekitar jam 12:40 rombongan meninggalkan pantai TelengRia, dan bagi saya pribadi rasanya tidak mendapat kesan yang mendalam di pantai ini, karena memang waktu kunjungan yang singkat, yach khas pelesiran orang jawa, lebih lama naik kendaraannya dari pada menikmati wisatnya. Untungya bagi saya sepanjang perjalanan dari jogja tadi, saya berdiri di pintu bis bagian depan, sehingga bisa menyaksikan pemandangan bukit karst disepanjang jalan selepan kota Wonosari sampai Pacitan.

Sampai di Goa Gong

Sampai di Goa Gong

Jam 13:50 sampailah kami serombongan di Gua Gong, saya pikir dinamai gua Gong karena mungkin ada batuan stalagtit atau stalagmit yang berbentuk gong, tetapi rupanya hanya batu biasa yang saat dipukul bersuara seperti Gong, bentuk batunya sama sekali tidak mirip Gong. Untuk ke Gua Gong harus berjalan kaki naik bukit kurang lebih 150 meter, di kiri-kanan jalan setapak yang sudah di semen, berjejer para pedangang makanan makanan dan souvenir. Tiba di pintu gua Gong sudah disambut dengan ibu-ibu yang menawarkan rental senter seharga Rp. 2ribu sekali masuk, bayarnya nanti setelah keluar.

Dinding Marmer di Goa Gong

Dinding Marmer di Goa Gong

Jam 14:00 saya tiba di mulut gua gong. Saya menyewa senter juga, dan dibawa istri saya. Sebenarnya gua gong di dalamnya sudah ditata dengan baik sekali, diberi jalan setapak menyusuri lorong-lorong gua, dan diberi pula pagar dari stainless steel sehingga tidak karatan. Tidak lupa pula di pasangi lampu warna-warni pada beberapa sudut, dan dipasang pula beberapa blower [kipas besar] disana-sini untuk memberikan hembusan udara segar ke pengunjung.

Kesan saya di Gua Gong ini, sungguh fantastis. Gua ini memang masih HIDUP, saya katakan hidup, karena air masih menetes sehingga masih terus membentuk gua ini. Sayang sekali waktu memang kurang banyak sehingga saya tidak bisa menikmatinya dengan lebih baik lagi.

Akhirnya saya keluar juga jam 14:28, jadi kira-kira sekitar 30 menit saja saya menyusuri Gua Gong, pintu masuk dan keluarnya sama saja. Lain dengan misal Gua Cerme di Imogiri yang berupa sungai gua yang bisa disusuri dengan pintu masuk di Wilayah Imogiri, dan pintu keluarnya di Wilayah Bantul [semoga saya tidak salah].

Sekitar jam 15:10 rombongan meninggalkan Gua Gong, untuk selanjutnya menuju gua Tabuhan, disebut demikian karena batuannya bisa dibuat tabuhan/ditabuh sehingga seperti konser campursari.

Jam 15:33, sampailah ke lokasi Gua Tabuhan, jalan menuju gua tabuhan ini, hanya kecil saja, pas-pasan untuk bis yang ukuran 28 orang [ bis sedang ]. Kesan saya di Gua Tabuhan ini sangat mengecewakan, setelah tadi disuguhi keindahan dan keprofesionalan di gua Gong, maka hanya kekecewaan saja yang saya dapati di Gua Tabuhan ini, gua ini sudah Mati, hampir tidak ada air yang menetes-netes menumbuhkan stalagmit dan stalagtit. Goanya sendiri tidak beditu dalam, mungkin kisaran 50 meter saja. Sedikit terhibur rasa kecewa saya ketika pimpinan rombongan menanggap lagu, untuk 5 lagu rombongan seniman gua tabuhan meminta harga 70ribu, tampaknya ongkos ini dinaikkan sepihak oleh rombongan kesenian, tampak dari tempelan dan terpampang di dalam gua.

Di Gua Tabuhan ini sewa senternya adalah Rp.3ribu sekali masuk. Lebih mahal dari Gua Gong, padahal jarak tempuhmya lebih lama di Gua Gong. Saya tidak menyewa senter di goa tabuhan ini, cukup mengandalkan flash dari HP SE K750i saya saja.

Bagi yang menyukai batu-batu berharga, akik, dll, di obyek wisata pacitan ini banyak penjualnya. Saya sendiri karena tidak suka, maka hanya sekedar lihat-lihat saja.

Saran saya untuk yang mau berwisata gua, lebih baik menuju ke Gua Tabuhan dulu, baru ke Gua Gong, karena pemandangan stalagmit dan stalagtit di Gua Tabuhan tidaklah semenarik Gua Gong.

Sekitar jam 16:25 rombongan kami meninggalkan lokasi wisata Gua Tabuhan, dan sampai di Jogja lagi jam 19:40, yaitu tiba di Pasar Gamping Jogja untuk beli oleh-oleh. Aneh juga wisatanya di Pacitan, tapi beli oleh-olehnya di Jogja.

Sampi rumah penat juga badan saya, inilah gaya pelesiran yang sebenarnya menggelikan dan konyol, karena hanya kelamaan naik bis.

Iklan

24 Tanggapan

  1. Wahh..menyenangkan sekali ya pak Hadi,masih bisa menikmati liburan:-).Saya sendiri kalau cuti keJawa blm pernah mengadakan acara plesiran seperti ini.

    Pernah plesir ke Bali nöpö mböten pak…:-o

    Suka

    • Pernah juga ke Bali Mas, lagi-lagi dulu juga dalam rangka liburan guru-guru SD se Kecamatan, dan saya ikut karena mewakili ibu saya yang tidak bisa ikut. Mungkin sekitar tahun 90an. Saya sudah lupa tepatnya.

      Suka

  2. bagus ya, pingin juga kesana, tapi kapan ?
    dari blitar jauh banget.
    atau mungkin pas libur sekolah nanti.

    “oh tinggal di Blitar tho, deket ya dengan makam bung Karno?”

    Suka

  3. bagus banget…….! jadi pingin kesana, tapi
    dari blitar jauh banget. meski satu propinsi.

    Suka

  4. mungkin kalau para guru dan staf rekreasi arahnya
    kesana aja ya ? kan asyik…! daripada ke p bali lagi
    bosen juga. apa pak hadi gak pingin berkunjung-
    ke makam bung karno di blitar.

    “Saya belum pernah ke blitar, secara keinginan tentu ada, tapi tetap nunggu kalau ada yang mengajak saja”

    Suka

  5. trimakasih atas kunjunganya
    http://mymotivation1.blogspot.com/

    Suka

  6. Very good feature …. !
    Let’s do more an better …..

    Suka

  7. infonya sangat bermanfaat. makasih ( tapi sayang nggak ke pantai klayar sekalian ya)

    Suka

  8. Ass. Wr. Wb.Salam kenal
    dari saya (Ki Gde), Banyak teman, banyak saudara, banyak rejeki selamat dunia akherat, Amin….
    tolong mohon informasi tentang batu dari gua tabuhan/gong, yang warnanya hijau kebiru-biuar uti namanya bantu apa yaaa ???
    ujudnya bongkahan belum digosok, harganya sekitar berapa ?
    trimakasih, Wassalam

    Suka

  9. tukeran link yuk pak 🙂 salam kenal.. woow saya pengen ke pacitan..

    Suka

  10. UUUUUUUUUUUASIK TENAN

    Suka

  11. koreksi: gua cerme dibantul, pintu masuknya bantul,pintu keluarnya di gunungkidul spt sungai bawah tanah perlu waktu 2-3 jam untuk menyusurinya……..

    Suka

  12. pertamaxxx
    dari koboi
    benarkah???

    Suka

  13. pertamaxxx!

    Suka

  14. xxxamatrep!

    ini nyoba koq gak bisa2 komen ya_

    Suka

  15. trims infonya,….jd pingin plesir ke pacitan….

    Suka

  16. Tak melu njajal nang gua gong, btw disekitarnya situ terdapat penginapan kah, pak? rencanane orang kepengen plesir model jawa sing suwe numpak kretane, tapi model landa sing betah anggone nyawang. Suwun infonya

    Suka

  17. wah untung kemaren milih mampir ke goa gong

    Suka

Silahkan memberi komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: