Guru SD ya?! Nggak ada gengsinya!


ini adalah tulisan aslinya dari teman saya, monggo silahkan dibaca sampe kalar dulu, baru komentar 😀

 

====================================================================

Kira-kira kata-kata seperti itulah yang pertama kali muncul dalam benak saya ketika mendapat tawaran untuk melamar pekerjaan sebagai guru mata pelajaran bahasa Inggris di sebuah sekolah dasar negeri di wilayah Bantul. Hanya karena ada unsur paksaan dari orang tua, akhirnya saya lakukan juga sesuatu yang tidak sesuai dengan kehendak hati itu, yaitu menjadi seorang guru. Ya, menjadi seorang guru memang bukan cita-cita saya, walaupun saya kuliah di fakultas keguruan dan ilmu pendidikan, tapi karena jurusan yang saya ambil adalah bahasa Inggris, jadi menurut saya menjadi seorang guru bukanlah harga mati. Tidak harus menjadi guru, tapi banyak alternatif lainnya, yaitu menjadi translator (penerjemah), tour guide (pemandu wisata), bekerja di perusahaan ekspor-impor, atau kalau memungkinkan bisa juga menjadi gurunya mahasiswa (baca: dosen). Untuk alternatif yang terakhir inilah yang I really wanna be…karena idealisme dan cita-cita saya masih terlalu tinggi waktu itu, terlalu tinggi untuk ukuran kemampuan saya yang memang hanya pas-pasan L. Tapi, beruntung saya punya cita-cita tinggi itu dan Alloh menempatkan saya di tingkat sekolah dasar, mungkin kalau cita-cita saya sebagai guru SMA, Alloh akan menempatkan saya di tingkat taman kanak-kanak, dan kalau saya punya cita-cita sebagai guru SMP, mungkin Alloh akan menempatkan saya di tingkat pendidikan anak usia dini! (pemikiran yang bersifat ‘menghibur diri’ hehe..). Tapi berawal dari sebagai guru SD inilah saya rasakan dunia kerja yang sesungguhnya dan saya temukan banyak pelajaran hidup di dalamnya.

Pertama kali terjun ke sekolah yang muridnya semua adalah anak-anak itu, saya dikejutkan dengan banyak hal yang tidak pernah saya pelajari di bangku kuliah maupun praktek mengajar saya yang notabene adalah di sekolah menengah kejuruan. Berawal dari lingkungan kantor. Dalam lingkup guru-guru yang mengajar di SD itu, saya adalah yang paling muda dan di antara teman yang lain, yang paling muda yaitu berusia seusia bapak saya, maka sering sekali saya berada dalam posisi sulit. Tidak bisa selalu masuk ke dalam topik pembicaraan yang mereka bicarakan karena memang selisih usia yang terlalu jauh. Jangan dibayangkan kalau ruang kantor guru tempat saya bekerja itu seperti ruang guru di SMP ataupun ruang guru SD yang kelasnya sudah paralel. Ruang guru yang memaksa saya untuk tidak hedonis dan harus mampu berkomunikasi dan berinteraksi dengan guru-guru yang lain. Selalu mengalahkan ego sebagai yang lebih muda, memposisikan diri untuk selalu siap dinasehati dan diberitahu, bahkan untuk sesuatu yang sudah sangat saya ketahui dan saya pahami. Senior kita tak akan peduli apa gelar pendidikan yang kita sandang, berapa banyak nilai A yang sudah kita raih, ataupun seberapa pandai kita itu. Yang ingin mereka lihat adalah action and result (tindakan dan hasilnya). Dari sini saya belajar bahwa kecerdasan intelektual seseorang harus disertai dengan kecerdasan emosi dimana saat seseorang merasa ‘bisa’ tapi lingkungannya berkata sebaliknya yaitu ‘kamu belum mampu untuk itu’, maka saat itulah seseorang diuji bagaimana ia harus mengolah emosinya berdasarkan kemampuan berfikir yang dimilikinya.

Selain itu, saya harus membiasakan diri dengan kebiasaan-kebiasaan anak-anak SD yang pada awalnya menurut saya sangat aneh. Di antaranya, mereka suka sekali mengadu pada guru tentang apa yang mereka atau teman mereka alami, bahkan sampai pada hal yang tidak penting  sama sekali. Lebih anehnya, mereka tetap saja hobi mengadu padahal pak guru atau bu guru hanya menjawab dengan berkata ‘ya’ atau mengangguk saja!. Dari sini (pun) saya bisa belajar bahwa anak-anak seusia mereka tidak cukup hanya diajari tapi juga dibimbing. Mereka masih terlalu kecil untuk bisa melakukan dan mengerti apa yang mereka lihat dan mereka rasakan tanpa bantuan orang yang lebih dewasa, yaitu guru mereka sebagai ayah dan ibu ke-dua saat mereka berada di lingkungan sekolah.

Pernah pada suatu waktu saat mengajar di kelas satu saya dihadapkan pada posisi yang sulit. Di tengah-tengah pelajaran, salah seorang siswa menghampiri dan menarik lengan saya agar saya mendekatkan telinga saya di mulutnya. Ia berbicara pelan minta di antar dan ditemani ke toilet. Saya tidak mungkin melimpahkan tugas itu kepada guru lain karena saya merasa pada jam itu para siswa sedang berada dalam tanggung jawab saya. Dan kebetulan waktu itu, guru kelas satu sedang menyelesaikan urusannya di luar sekolah (suatu kebiasaan yang dilakukan oleh kebanyakan guru kelas di SD saat kelas mereka diisi oleh guru mata pelajaran, mereka akan sangat memanfaatkan waktu itu untuk keperluan yang mungkin sempat tertunda). Di saat-saat seperti inilah, rencana pembelajaran yang sudah dibuat sempurna harus diubah sesuai kondisi di dalam kelas. Saya instruksikan siswa yang lain untuk mencontoh gambar yang ada di buku kemudian mewarnainya. Setelah mereka terkondisi, saya antarkan siswa saya tadi. Sesampai di toilet, saya bantu dia untuk melepas sepatu dan ikat pinggang. Saat itulah siswa kecil saya itu berkata dengan polosnya, “Miss, aku belum bisa ‘wawik’ (baca: cebok) sendiri”. Tertegun saya mendengar ucapannya itu. Bagaimana tidak, waktu itu saya belum punya anak dan saya sungguh tidak punya keberanian dan kemauan untuk melakukan itu. Saya hanya menjawabnya dengan senyuman, senyum yang kecut tentunya. Setelah dia masuk ke kamar mandi, saya hendak menutup pintunya, tapi tiba-tiba dia setengah berteriak menghentikan saya, “Nggak usah ditutup pintunya, aku takut di dalam sendirian! Miss Muna di situ aja”. Oh my God!!! Dengan setengah menangis dalam hati, saya berbisik, kenapa saya dihadapkan pada situasi sulit seperti ini. Tak akan mampu rasanya tangan ini melakukan hal yang mungkin adalah ‘biasa’ untuk para perawat (untung saya dulu mengurungkan niat saya untuk sekolah di keperawatan). Tiba-tiba saya ingat pesan bapak saya, bahwa dalam kondisi sesulit apapun kita harus bisa bersikap tenang agar kita bisa berfikir jernih dan tidak bertindak gegabah. Akhirnya saya bisa lebih menenangkan diri saya. Setelah siswa kecil saya itu selesai dan memanggil saya, saya berusaha membujuk dia untuk belajar menyiram sendiri WC sampai bersih dan ia harus mau belajar menggunakan tangan kirinya sendiri untuk membersihkan sampai benar-benar bersih sementara saya bantu menyiramkan airnya. Setelah itu, saya menyuruh dia mencuci tangannya dengan sabun. Akhirnya, semua bisa saya atasi!

Hal itu hanya salah satu dari sekian banyak masalah yang harus saya hadapi saat berhadapan dengan murid-murid kecil saya. Tapi dari itu semua, dari setiap kejadian yang dihadapkan pada saya, ada pelajaran yang bisa saya ambil. Namun demikian, ada duka maka ada suka juga. Saya pernah merasa tersanjung sekali ketika ada salah seorang siswa kecil saya meronce bunga dan menghadiahkannya pada saya (hal yang satu ini tidak mungkin dilakukan oleh siswa-siswa saya yang SMP karena pasti akan terjadi missunderstanding di situ). Atau saat saya belum turun dari motor, sudah banyak siswa kecil saya yang mengantri untuk bersalaman dan mencium tangan saya. Saat banyak siswa yang memuji tulisan saya (yang kata mereka bagus) di papan tulis. Saat para siswa merasa antusias dan patuh ketika saya mengajar. Saat lebih dari separuh siswa mendapat nilai di atas rata-rata ketika ulangan. Saat hendak masuk kelas, ada juga beberapa siswa yang membujuk untuk membawakan tas saya, hal yang terakhir inilah saya selalu menolak dengan alasan tidak tega.

Untuk menjalankan profesi ini tak semudah orang lain menilai. Saya juga harus bisa membuat siswa selalu merasa senang dengan saya dan apa yang saya ajarkan, mampu menguasai kelas dan tetap tegas tanpa ada kesan culas. Setelah tiga tahun terakhir, saya sangat menikmati pekerjaan saya ini. Tak peduli lagi berapa rupiah yang bisa saya kantongi dari menjalani profesi ini. Karena profesi ini juga yang mengantarkan saya pada kesuksesan-kesuksesan selanjutnya. Dipercaya suatu lembaga ataupun personal untuk membagi ilmu bahasa Inggris saya untuk tingkatan-tingkatan yang lebih tinggi tentunya.

Dari sekolah dasar-lah saya belajar banyak hal tentang ‘pertama kalinya’. Dari tempat itulah saya mulai bisa membaca tulisan kehidupan. Maka jika ada orang bertanya pada saya, “Guru SD ya?!”. Saya akan menjawab, “YA! (dengan rasa bangga)”.

Oleh: Nawa Al Munawaroh (Nama Pena dari Munawaroh)

Tulisan ini saya dedikasikan untuk kawan-kawan seperjuangan yang telah mendedikasikan dirinya untuk Pendidikan. Bahwa pada hakekatnya tugas seorang guru adalah mentransfer segala macam KEBAIKAN tanpa memandang di tingkat mana kita ditempatkan, kita harus mau untuk terus belajar dan belajar dan menerima sgala macam perubahan.

Juga untuk murid-murid kecilku…

Kalian adalah masa depan! Semangat ya anak-anakku sayang!!!

Sumber : http://nawaalmunawaroh.blogspot.com/

Iklan

32 Tanggapan

  1. ibu ane guru Sd,,

    Suka

  2. nah kalau guru seperti ini yang disebut guru teladan…teruskan Bu

    Suka

  3. pekerjaan yang mulia..

    Suka

  4. tulisane dowo banget…gak mudeng intine gan……….semua pekerjaan ada tantangannya….itu pasti..tinggal kita saja melihat dari sudut pandang yang mana??!! tidak ada yang mudah didunia ini…tapi juga tidak sesulit yang dibayangkan

    Suka

  5. jadi guru lebih mulia daripada jadi pejabat…

    Suka

  6. We are The Teacher family….

    kalo buat stiker kayak gini, arogan ga’ ya…

    Suka

    • guru SD yang sdh sertifikasi sekarang moncer mas bro he he, tapi perlu diperketat tuh ujian sertifikasi, kalo perlu ada test dari independent

      Suka

  7. bu munawaroh itu siapa mas? 🙂
    very inspiring words

    Suka

  8. opo meneh guru MI halaahhh

    Suka

  9. “Dari tempat itulah saya mulai bisa membaca tulisan kehidupan.”

    sip iki…

    Suka

  10. wah… makasih bgt loh mas dah membantu blog saya jd agak lebih dikenal!! blog ga prnh keurus itu..
    jd semangat nulis lg!
    mhn maaf ya, tulisannya msh bnyk kekurangan, msh dlm taraf belajar
    mas Hadiyanta guru jg ternyata???

    Suka

  11. makasih bgt loh mas dah bikin blog saya lebih dikenal! hehe
    blog ga keurus itu..
    jd semangat nulis lg!!
    mas Hadiyanta guru jg ternyata???

    Suka

  12. tulisane dowo banget gek ra ono gambar bu gurune, meng sempet moco judul karo komentar 🙂

    Suka

    • soale sy suka yg dowo2!! 😀
      klo mo liat gbr bu gurunya, di link aja blog sumbernya!! difollow jg ya… #ngemis hehe

      Suka

  13. Wah,bu gurune seneng sing dowo2..tapi salut deh.kalo yg setingkat SD lebih terasa sebagai pendidik daripada pengajar.bingung kan?podoo..

    Suka

    • dowo = panjang
      saya suka umur panjang (yg bekah), wktu istirahat yg panjang, rambut lurus panjang, dsb… :p
      menurut hemat saya, pendidik: mengajarkan segala mcm kebaikan, baik ilmu pengetahuan maupun budi pekerti/ilmu memenage emosi dan akal
      pengajar: mentransfer ilmu pengetahuan yg telah dipelajari kepada para peserta didik

      Suka

  14. itulah realnya mas…

    saya sendiri seorang guru bahasa inggris di SD… dan semua pengalaman itu hampir sama yang saya dapatkan di dua SD sekaligus…

    mungkin kalo bagi seorang perempuan… itu lebih mudah mas… untuk saya lebih sulit karena tau sendri gaya lelaki kayak apa, meskipun egitu… justru sampai sekarang saya menikmati itu…

    hal yang paling mengesankan adalah\:
    sampai sekarang semua murid dari kelas 1 sampai 6 selalu salim saat saya datang, meski kadang guru kelasnya sendiri tidak salim…
    respek yang sangat tinggi itulah yang membuat saya bertahan.. meski gaji tidak seberapa… tatapi rasa nyaman dan sayang pada anak-anaklah yang membuat bertahan…

    karena perbedaannya dgn level diatasnya berbeda…
    saya kebetulan pernah dalam seminggu mengajar di semua level…

    mulai dari SD kelas 1, SMP, SMA, sampai mahasiswa DIploma Pariwisata di Solo saya pernah ngajar… tapi
    yang paling berkesan adalah ngajar di SD…

    Suka

  15. guru yang paling berkesan adalah guru SD, cz mereka mengajarkan siswa dari titik 0, dari tidak bisa apa2 smpe bsa menulis, membaca dll…
    terus semangat, kerja adalah Ibadah bagi mereka yang tulus ikhlas, sabar dan menghrapkan Ridho Allah SWT…
    sebenernya sya lebih trtarik menjdi guru dripda menjadi Auditor.

    Suka

  16. denger2 syarat masuk SD sudah harus bisa baca tulis ya?
    berarti berkurang beban guru mengajarkan baca tuls.

    *) salam hormat saya untuk semua guru2, khususnya guru2 saya dulu..

    Suka

  17. gak suka anak2 :mrgreen:

    Suka

  18. kalo kesampean jadi dosen dan tiba-tiba ada yang bisikin minta diantar ke toilet ?

    Suka

  19. aku juga bangga
    :mrgreen:

    Suka

  20. yang penting jangan cuma ngejar sertifikasi, n tetap semangat!

    Suka

  21. I cling on to listening to the news talk about getting free online grant applications so I have been looking around for the top site to get one. Could you tell me please, where could i find some?

    Suka

  22. mantap webnya…..sukses buat bpk/ibu guru SD……smoga sudah sertifikasi semua…..

    Suka

  23. tak terasa, ternyata sudah lebih dari setahun yang lalu tulisan saya ini dipublikasikan oleh seorang (yg belakangan baru saya tau) blogger ternama!! hanya bisa senyum-senyum sendiri baca tulisan saya ini…
    terima kasih banyak ya mas hadiyanta 🙂

    Suka

Silahkan memberi komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: