DVB-T2 belum jalan sehat, sudah disusul DVB-T2 Lite


Dunia penyiaran televisi teresterial saat ini sedang menjalankan standar DVB-T2 untuk penyiaran digital teresterial free to air alias gratis. Namun jalannya masih tertatih-tatih karena beberapa alasan teknis dan non teknis. Dengan permasalahan seperti itu, malah sekarang ada standar baru lagi pengembangan dari DVB-T2 yaitu DVB-T2 Lite. Maka yang DVB-T2 sekarang bisa kita disebut dengan DVB-T2 Base.

Saya sendiri masih mempelajari tentang teknologi DVB-T2 base dan DVB-T2 Lite ini, sehingga pemahaman saya juga belum bisa merata, menyeluruh dan menguasai secara baik. Jadi mohon maaf jika mungkin terjadi kesalahan informasi.

Sebenarnya ada pangsa pasar besar sekali penonton televisi yang dilewatkan oleh televisi digital teresterial saat ini, yaitu para pengguna HP layar lebar, para pengguna komputer, laptop, dan tablet. Karena saat ini DVB-T2 base hanya menyasar ke pemirsa tv rumahan memakai antena khusus, misal antena UHF diluar rumah yang dipasang pada tiang yang tinggi. Pada tempat tempat yang jauh dari pemanacar digital, menonton tv digital teresterial tanpa antena yang tinggi adalah mustahil.

Pemahaman saya untuk DVB-T2 Lite adalah untuk menyasar yang pangsa pasar penonton yang terlewat tadi, jadi orang akan begitu mudahnya kelak menonton tv digital teresterial dengan standar DVB-T2 Lite ini pada HP, tablet, laptop dan PC dengan diberi penerima STB USB kecil, atau mungkin laptop dan PC yang include receiver DVB-T2 Lite. Besok pada setiap HP terutama HP layar lebar apapun OS nya baik itu android, ios, bb, windows, semuanya sudah include receiver DVB-T2 Lite, sehingga orang bisa melihat tv digital teresterial dimanapun kapanpun melalui HP atau tabletnya dengan kualitas siaran yang jernih.

Jika sekarang dirata-rata tiap rumah hanya ada 1 pesawat TV, maka bisa dibayangkan kelak setiap orang menjadi punya satu pesawat penerima tv digital teresterial. Tiap orang akan bisa menonton acara televisi gratis sesuai kesukaan masing-masing. Berbeda dengan saat ini yang satu rumah hanya punya satu pesawat TV maka yang menguasai remote yang menang. Misal ibu menonton sinetron, terpaksa bapak yang suka sepakbola mengalah. Misal anak-anak menonton kartun, terpaksa ayah dan ibunya ikut menonton. Kelak tiap orang yang punya HP/tablet/laptop akan bisa melihat tv yang berbeda dalam waktu yang sama melalui perangkat masing-masing.

Ini adalah pangsa pasar besar yang sangat menjanjikan, dan saya yakin kelak teknologi ini akan terwujud.

Lalu bagaimana dengan DVB-T2 base? Sepertinya tetap berjalan, dan hebatnya DVB-T2 Lite ini bisa siaran bareng DVB-T2 Base dengan pemancar dan frekuensi yang sama.

Saya sampai saat ini masih bermimpi tentang tabelet android yang sudah ada receiver  DVB-T2, tetapi setahu saya belum juga ada yang dijual di Jogja. Bagaimanapun akan susah menangkap sinyal DVB-T2 base dengan tablet tanpa antena yang tinggi, karena dari pengalaman saya mencoba STB DVB-T2 base di jarak yang jauh dari pemancar, ternyata susah untuk mendapatkan sinyal, antena harus tinggi dipasang di tiang, dan harus FIX. Inilah mungkin alasannya percuma jika dicangkokkan receiver DVB-T2 Base kedalam laptop/tablet/HP. Malah menjadi tidak ekonomis, dan tidak berguna.

Sebenarnya ada teknologi DVB-H (handheld) untuk mobile. Tapi saya yakin akan susah berkembang, masalah utamanya adalah ketersediaan FREKUENSI. Pakai frekuensi mana lagi? kalau DVB-T2 Base dan Lite sudah jelas pakai UHF yang selama ini dipakai oleh pemancar TV analog.

Teknologi memang terus berkelanjutan, DVB-T2 Lite saya yakin akan diterima industri,  pangsa pasar yang besar adalah alasan utamanya, saya yakin akan memacu semua pihak untuk segera menjalankan teknologi DVB-T2 Lite ini, baik itu produsen HP/tablet/laptop/PC dan asesoris STB USB. Terlebih pasar yaitu para pemirsa TV yang tentu akan suka menonton TV digital jernih di layar HP/tablet/laptop atau PC masing-masing.

Jadi mari kita tunggu saja.

Semoga berguna.

Iklan

11 Tanggapan

  1. Kalau yg udah usb OTG bukannya dah bisa ditancapi antena receiver ya pak?seperti di komputer itu,tapi dah ada aplikasinya belum ya?

    Suka

  2. tambah mumet cak,,,iki ae urung pepek konten e dvb-t2…edisi dbt-t koyok biyen maneh iki,, ngangur dadi bangkai maneh,,

    Suka

  3. Wah.. yg dvb saja masih tersendat perkembangannya On Jan 7, 2015 1:40 PM, “hadiyanta.com (blogger, commuter, father,

    Suka

  4. ya wong cilik sih tinggal mannut lah,

    Suka

  5. Jakarta tinggal 2 grup saja kah? TVRI & Surya Citra grup?

    Suka

  6. kayaknya klo masih pake frekuensi uhf susah masbro dipake di gadget seperti smartphone, krn masih butuh antena panjang kayak hape lokal yg ada tv tuner analognya….klo mau praktis ya harus pake frekuensi tinggi minimal 2,4ghz, biar antenanya bisa mungil dalem hp ajah…cmiiw…

    Suka

  7. akh gk ngerti masalah gini,,tau nikmati aja soanya…

    Suka

  8. antv tvone digital jogja kapan siarannya mas, yang analog payah. saya pernah lihat di youtube dah ada tablet dan usb tv digital cuma kurang jelas sistemnya apa tapi nyatanya bisa tuh nangkap tv, kalau di jepang dan china pake isdb yang lebih fleksibel.

    Suka

  9. antv tvone digital jogja kapan nih on mas? yang analog di bantul selatan gambar jelek semua

    Suka

Silahkan memberi komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: