Daging qurban dibikin bakso

Ternyata ada banyak cara memasak daging qurban yang kita terima, cara paling umum adalah disate, digulai dan di tongseng, tapi boleh juga kalau kita coba alternatf lain, yaitu dibikin bakso. caranya bawa daging sapi ke tempat penggilingan daging, kalau di sekitar rumah saya ada di daerah Pasar Godean ada tiga tempat, ini menurut teman FB saya yang penguasa tlatah pasar Godean

IMG_20141004_120408

Tongseng

IMG_20141004_142942

Sate

IMG_20141004_150334

Pamer sate

1798803_10202567767229783_6436000947810200864_n 10701947_10202567769229833_8508191591164148888_n

IMG_20141005_055424 IMG_20141005_060803

Onojraz Pakne Devica sing paling pas campurane menurutQ depan BPD godean….sblah showroom honda.
Nek yg gak antri neng kios daging sapi Hato (halalan toyyibah) pertigaan kidul TGP, tempatnya juga bersih banget.

Sabtu sore mau nggiling daging kok badan sudah lelah banget, dan saya yakin pasti juga berjubel panjang antrinya akhirnya tadi pagi jam 6:15 berangkat ke kios penggilingan daging di utara pasar Godean, ternyata tiba disini sudah antri sekitar 4 meteran, caranya daging sapi kita beri bumbu dan campuran adonan di warung sebelahnya persis, lalu kita tarus di kresek yang sudah kita tandai, lalu tinggal diantrikan. Untunglah antrinya model ditali RAFIA, sehingga aman dari kenakalan orang yang mau overlap yang tidak mau antri.

Cara menggilingkan daging dan cara bikin bakso sudah saya tulis beberapa waktu yang lalu tips tips nya, silahkan dicari jika dibutuhkan.

Iklan

Warung sate tongseng kambing PAK MINTO Wirobrajan

image

image

image

image

image

image

image

ini warung langganan saya dari tahun 90an saat kuliah di UCLA (Universitas Cerak Lapangan Asri) di wirobrajan depan SMA1 TELADAN.

Warung pak minto dibarat perempatan wirobrajan, sekitar 300meter dari perempatannya. utara jalan, depan persis APOTIK DIAN FARMA.

SATE PETIR & Tongseng kambing pak NANO

Sebenarnya tiap berangkat dan pulang kerja, saya selalu melewati warung Pak Nano, karena memang warungnya ada di pinggir ringroad selatan. Warung ini menyediakan menu khas kambing, dari sate, tongseng, balungan dll.

Hari sabtu tanggal 12 Februari 2011 kemarin saya sempatkan mampir untuk pertama kalinya di warung Pak Nano, dan saya pesen tongseng. ketika ditanya pedas tidak, saya jawab dengan penuh keyakinan minta pedas. Karena saya termasuk kategori doyan sambel meskipun belum sampai tahab ekstrim. Untuk menunggu, saya minta jeruk panas, karena saya yakin membuatnya akan makan waktu 15 menitan lebih. Tapi keheranan saya timbul, saat hanya kurang lebih 10 menitan bahkan mungkin kurang, saya diminta ngicipi pake cendok calon tongseng saya, dan langsung saya icip dan bilang sudah pas, heran juga baru kali ini kejadian saya diminta ngicipi dulu masakan yang saya pesan, hebat!

image

Semenit kemudian tongseng sudah terhidang di depan saya, langsung saya makan, huuuuuaaaaaaaaaaaaaaaahhhhhh pedes dan panas banget rasanya, saya langsung teringat oseng-oseng mercon di depan MAN yang ada di timur perempatan Ngampilan Jogja, tongseng ini bahkan lebih pedes dari oseng-oseng mercon. Atau mungkin karena akhir-akhir ini lidah saya jarang bersenggolan dengan sambal, karena memang lombok lagi melangit harganya, tapi yakin tongseng ini memang pedes.

Kontan saya minta jeruk panas saya ditambah diberi ES, lalu saya masih pesen es jeruk segelas lagi, bene-bener pedes, saya langsung keringetan, makan secendok, langsung minum, makan secendok lanjut minum, lama-lama habis juga. Tapi perut jadi panassssssss.

Sambil makan saya tanya-tanya katanya lomboknya diberi 5 buah, tapi yang bikin panas adalah mrico ireng alias lada hitam yang kata penjualnya ini biasanya untuk bahan jamu, dan belinya harus di pasar beringharjo, kalau pasar-pasar kecil katanya tidak mesti ada.

Oke deh bagi anda pecinta masakan kambing dan pecinta pedes, silahkan saja dicoba. Untuk alamatnya lengkap saya tidak tahu, hanya arah-arahnya adalah dari perempatan ringroad yang motong jalan Bantul (Dongkelan) anda terus ke barat, nanti akan sampai bangjo ringroad Madukismo, kebarat lagi akan lewat jembatan, masih kebarat lagi tapi pelan-pelan, warung pak Nano ada di sebelah timur jembatan berikutnya, jadi diapit dua sungai. Biasanya sudah ada mobil berjejer-jejer yang pada beli di warung. Warungnya sendiri buka jam 13:00 dan kemarin sampai jam 19:30 saat saya mampir, ternyata warung masih buka.

Hampir lupa, saya bayar Rp. 21.000 untuk tongseng dan dua gelas es teh, mungkin tongsengnya 18.000 dan dua gelas es tehnya 3.000 😀

image

image

Pedes